PETALONGAN – Suasana penuh berkah dan khidmat menyelimuti Pondok Pesantren Tebuireng 3 pada Sabtu (22/08/2026). Ratusan hadirin yang terdiri dari para ustadz-ustadzah, wali santri, santri putra dan putri, hingga para alumni tampak memadati majelis untuk memperingati tiga momen besar sekaligus: Milad ke-13 Pesantren Tebuireng 3, Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, serta HUT Kemerdekaan RI ke-81.
Acara diawali dengan sambutan dari perwakilan Perangkat Desa setempat. Dalam penyampaiannya, pihak pemerintah desa mengucapkan selamat harlah yang ke-13 untuk Pesantren Tebuireng 3. Beliau juga mengungkapkan rasa bangganya atas keberadaan Pesantren Tebuireng 3 sebagai penopang utama benteng moral pemuda-pemudi di tengah tingginya arus dinamika dan tantangan kehidupan di luar pondok.
Pimpinan Pesantren Tebuireng 3, Kyai Ahmad Daroini, kemudian memberikan sambutan yang menggugah sanubari. Beliau mengajak seluruh hadirin menengok kembali sejarah dan tirakat (riyadloh) para pendiri Pesantren Tebuireng 3 melalui pembacaan Sholawat Nariyah sebanyak 4.444 kali. Beliau juga memimpin pembacaan surah Al-Fatihah yang dihadiahkan untuk para perintis dan pejuang yang telah berpulang ke rahmatullah, di antaranya:
- KH. Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) yang meresmikan Pesantren Tebuireng 3.
- KH. Mas’ud Hasan Bisrii, KH. M. Mahsun, serta Bapak Marlis.
- Seluruh perintis, muhsinin, dan pihak yang telah menginfakkan harta, tenaga, serta pikirannya demi berdirinya Pesantren Tebuireng 3.
Puncak acara diisi dengan tausiyah oleh Habib Muhsin Al-Athas, Pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatul Ulama Nurul Muawwanah Assiyaky, Desa Temusai, Kecamatan Bunga Raya, Kabupaten Siak Sri Indrapura. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya ilmu dan adab sebagai bekal masa depan generasi muda.
وَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ ، أَعْمَالُهُ مَرْدُوْدَةٌ لاَ تُقْبَلُ
“Apapun amal yang kita perbuat tanpa didasari dengan ilmu, maka niscaya tidak akan diterima,” tegas Habib Muhsin mengutip Matan Zubad.
Beliau menyampaikan bahwa ilmu agama dan umum harus seimbang agar menjadi penuntun hidup yang penuh keberkahan (fiddīni waddunyā ḥattāl-ākhirah). Selain ilmu, beliau mengingatkan para santri untuk senantiasa menjaga adab kepada para guru:
تَوَاضَعُوْا لِمَنْ تَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُ
“Rendahkan diri kita di hadapan para guru-guru kita. Takzim sama guru adalah syarat untuk mendapatkan ilmu yang maslahat dan bermanfaat,” lanjut beliau.
Tak lupa, beliau memberikan pesan mendalam kepada para orang tua, khususnya para ibu sebagai al-ummu ustāżatun ūlā (guru pertama dan utama). Beliau mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam membentuk karakter anak serta menjaga keharmonisan rumah tangga.
إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ ، وَإِنْ أَمَرْتَهَا أَطَاعَتْكَ
“Istri yang solehah itu jika dipandang suami selalu menyenangkan, dan jika diperintah selalu taat,” pesan beliau disambut senyum para jemaah.
Rangkaian acara peringatan tiga momen besar ini ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan untuk keberlangsungan Pesantren Tebuireng 3 serta keselamatan bagi bangsa dan negara.



